Ichsan
Urutan falsafah perjalanan hidup
dalam lagu jawa
Sejak lahir sampai mati:
1. Lahir atau Mijil. gamabaran kelahiran manusia berwatak cinta, prihatin. Cocok untuk memberikan pendidikan/ pengajaran, rasa cinta kasih.
2. Muda atau Sinom, masa muda lagu bersifat lincah, “ethes”, “canthas”. Cocok untuk melukiskan suasana kelincahan, berpidato, nasihat.
3. Mabuk cinta atau kasmaran atau Asmaradana lagu berwatak sedih, cinta asmara. Cocok untuk menggambarkan hal-hal yang mengandung kesedihan cinta asmara.
4. Pahit manis nya kehidupan atau Dhandhanggula berwatak luwes, menyenangkan. Sesuai untuk mengungkapkan segala hal/ keadaan.
5. Mendapat teman hidup atau Kinanthi lagu bersifat senang, cinta kasih. Cocok untuk memberikan pendidikan/ pengajaran, rasa cinta kasih.
6. Dinamika hidup penuh kepalsuan ibarat Maskumambang “nlangsa”, sedih, memilukan. Cocok untuk melukiskan perasaan sedih, memilukan hati.
7. Gambuh “sumanak, sumadulur”, kekeluargaan. Cocok untuk pengungkapan hal-hal yang bersifat keluargaan, nasihat, kependidikan yang mengandung kesungguhan hati.
8. Mungkur atau Pangkur, menjauhi godaan dunia lagu bersifat keras, bergairah (“kereng, nepsu”), cocok untuk memberikan nasihat yang keras, cinta berapi-api, cerita hal-hal yahng bersifat keras.
9. Durma berwatak keras, marah, bergairah. Cocok untuk mengungkapkan kemarahan, cerita perang, perasan jengkel.
10. Pisah dengan ruh atau mati atau Megatruh lagu bersifat sedih, prihatin, “getun”, menyesal. Cocok untuk cerita yang mengandung rasa penyesalan, prihati, sedih.
11. Pucung atau di pocong, saat orang telah meninggal dunia, hanya amal baik yang bisa diandalkan , sedang kekayaan dan pangkat akan ditinggalkan.