RSS

EMPATI

23 Mar

EMPATI

Oleh ; Ichsanuddin

Daniel Goleman memberikan cerita ringan namun sangat penting untuk kita simak.

Gary, ahli bedah cemerlang yang menderita aleksitimia, yang membuat Ellen, tunangannya kecewa. Gary tidak memiliki perhatian sama sekali kepada Ellen, bila Ellen merasa kecewa maka Gary tidak memperhatikannya, bila Ellen membicarakan kasih sayang, Gary palah menaglihkan pembicaraan. Gary selalu mengajukan “kritik” membangun, terhadap apa yang dilakukan Ellen, namun tidak disadari bahwa kritika tersebut membuat Ellen merasa diserang, dan tidak merasa terbantu.

       Empati dibangun berdasarkan kesadaran diri, semakin terbuka kita kepada emosi diri sendiri, semakin terampil kita membaca perasaan. Gary tidak paham terhadap yang ia rasakan maka ia akan kelabakan bila harus memahami apa yang dirasakan orang lain. selain bingung terhadap persaannya sendiri, penderita eleksitimia juga bingung apabila ada orang lain mengungkapkan perasaan kepada mereka. kegagalan mendata perasaan orang lain ini merupakan kekurangan dalam kecerdasan emosional, dan cacad yang menyedihkan sebagai seorang manusia.

Kemampuan ber-empati yaitu kemampuan untuk mengetahui bagaimana perasaan orang lain-ikut berperan dalam pergulatan arena kehidupan, mulai dari penjualan dan management hingga ke asmara dan mendidik anak, dari belas kasih hingga persoalan politik. Tiadanya empati juga sangat nyata, ketiadaannya terlihat pada psikopat kriminal, pemerkosa atau pemerkosa anak-anak.

Emosi jarang diungkapkan dengan kata-kata, emosi jauh lebih sering ter ekspose melalui isyarat.

Kunci untuk memahami persaan orang lain adalah mampu membaca pesan nonverbal : nada bicara, gerak-gerik, ekpresi wajah, dan sebagainya. Penelitian mengenai hal ini yang paling lengkap adalah yang dilakukan oleh Robert Rosental, ahli psikologi dari Harvard, beserta mahasiswa-mahasiswanya. Yang diakhiri dengan membuat video yang menampilkan seorang wanita muda yang sedang mengungkapkan persaannya, mulai dari memaki-maki sampai kepada kasih seorang ibu.

Perkembangan Empati

Daniel Goleman memaparkan penelitian Marian Radke Yarrow dan Carolyn Zahn Waxler, Anak- anak menrurut kedua peneliti tersebut, menjadi lebi empatik bila kedisiplinan juga mencakup memberi perhatian dengan sungguh-sungguh atas kemalangan yang disebabkan oleh kenkalan mereka; “Lihat kamu membutnya amat sedih” bukannya “Nakalnya kamu”. Mereka juga menemukan bahwa emapti anak dibentuk pula dengan meniru apa yang mereka lihat, anak-anak mengembangkan repertoar respons empati, terutama untuk menolong orang lainyang sedang kesusahan.

Betapa pentingnya empati itu dalam kehidupan sehari-hari, karena akan menjaga bagaimana kita mengatur persaan kita terhadap orang lain, tidak sembarangan dan tidak sembrono, karena mereka juga manusia seperti kita, tetangga juga manusia, polisi juga manusia, dokter juga manusia, guru juga manusia, tokoh agama juga manusia, maka kita harus saling menghormati satu sama lain, saling menyayangi satu sama lain, saling tong satu sama lain.

Sekian ulasan saya

Rujukan Daniel Goleman, Emotional Intelligence

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 23, 2007 in ESQ

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: